
Alam Taslim. Pria kelahiran Surabaya dan adalah lulusan Desain Produk Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Awal karirnya dimulai sejak semester pertama di bangku kuliah sebagai komikus paruh waktu majalah, dan sebagai pengajar gambar paruh waktu di beberapa Bimbingan Belajar Ujian Masuk Program Studi Desain. Tahun terakhir di kampus dihabiskan dengan bekerja sebagai Perancang Sepatu paruh waktu untuk brand khusus sepatu anak-anak.
Tahun 2005 pindah ke Jakarta, bekerja penuh sebagai Desainer Grafis untuk Free Magazine, berlanjut ke perusahaan brand jam tangan, kemudian masuk ke industri periklanan. Selama 10 tahun, karier pun dibangun dari Desainer Grafis sampai Sr. Art Director, bekerja di agency periklanan baik lokal maupun internasional. Klien pun beragam dari minuman kemasan, obat-obatan, snack, perbankan, tempat wisata, provider sampai peralatan elektronik. Selain itu juga aktif di beberapa Festival Film di Jakarta, hingga terlibat dalam beberapa produksi film pendek.
Di tahun 2015, Alam Taslim melahirkan karakter monster mi instan bernama IGOR, kependekan dari “mI GOReng”, yang adalah varian rasa mi instan yang paling disukainya. Karakter tersebut kemudian dikembangkan menjadi brand igorsatumangkok yang menjual merchandise berupa produk kaos dan totebag. Dan tahun 2015 menjadi tahun terakhirnya tinggal di Jakarta dan melepaskan pekerjaan di industri periklanan, dan bersama monster IGOR memulai pengembaraan.
Februari 2016, Alam Taslim menjejakkan kaki di Ubud, Bali. Mengambil pekerjaan paruh waktu sebagai penjaga toko butik untuk beberapa bulan, sembari bermain-main dengan karakter monster IGOR-nya. Kolaborasi-kolaborasi pun muncul, menggaet beberapa teman sesama pegiat kreatif. Manager paruh waktu untuk Galeri Seni dan Desain Kontemporer di Denpasar adalah pekerjaan keduanya, di sinilah Alam Taslim bertemu dengan seniman-seniman, pegiat kreatif dan komunitas Denpasar dan Bali. Yang membuat keinginan untuk menarik karakter IGOR ke ranah seni dan ruang pamer semakin besar.
Akhir tahun 2016 showcase karya dengan membawa karakter monster IGOR untuk pertama kalinya dipamerkan, di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta. Berlanjut di Agustus 2017 pameran tunggal IGOR di Paviliun 28 Jakarta, disusul pameran-pameran kolektif, showcase, sharing session dan workshop di Bali. Pekerjaan komisi dengan mambawa monster IGOR pun muncul, dari ilustrasi untuk konten instagram brand sampai jadi maskot untuk festival kuliner. Namun monster IGOR tidak melupakan bentuk dirinya yang berupa merchandise, tahun 2017 sangat aktif mengikuti art market di Jakarta dan Bali.
Tahun 2018 Alam Taslim dan IGOR memulai program residensinya. Tinggal di Tobucil, Bandung, adalah yang permulaan, membuat program 1 bulan penuh diisi dengan sharing session, showcase karya, live mural, workshop dan merespon kuliner mi di Bandung. Berlanjut ke Yogyakarta bersama Mogus House, Ruang Seduh Yogyakarta dan Folksy Magazine, dan tanpa sengaja dipilih sebagai salah satu pembicara Pechakucha Yogyakarta. Terbang ke Makassar, dengan residensi ketiga ini bersama Sepetak Ruang dan Secangkir Kopi, 1 bulan penuh program berjalan disertai art market produk-produk dari brand-brand lokal Jawa dan Bali. Kota Surabaya memanggil dengan undangan sebagai dosen tamu di Institut Teknologi 10 Nopember. Dan berujung di bulan Februari 2019 program residensi pertama di luar Indonesia, menggandeng FabSpace membuat program sebulan di iSetan Lot10, Bukit Bintang, Kuala Lumpur.
Ketika kembali ke Indonesia, Alam Taslim memutuskan untuk tinggal di Yogyakarta. Membuka satu ruang publik kreatif Silakan Masuk Studio. Membuat program-program yang memperkenalkan spektrum kreatif untuk masyarakat, dari seni merchandise, kriya, pertunjukkan, buku, dan lain sebagainya. Pekerjaan komisi untuk brand dan sebagai pembicara masih berjalan, begitu juga merchandise dimana banyak kolaborasi-kolaborasi terjadi.
Foto: Gustra Adnyana.